Harapan baru bagi para petani, nelayan, dan pelaku UMKM di Lhokseumawe maupun Aceh Utara dan sekitarnya untuk menembus pasar internasional kini semakin dekat. Asa ini diperkuat setelah lembaga Aceh Trading Committee (ATC) menggelar audiensi hangat dengan Bea Cukai Lhokseumawe di Aula Malikussaleh, Rabu, 13 Mei 2026.
Pertemuan ini bukan sekadar urusan birokrasi, melainkan langkah nyata dalam merajut ekosistem perdagangan yang berpihak pada rakyat kecil. Melalui Pelabuhan Krueng Geukueh, hasil bumi Aceh direncanakan mulai mengarungi jalur ekspor pada Juni 2026.
Gotong Royong Demi Ekonomi Rakyat
Rombongan ATC yang dipimpin langsung Zulkarnaini akrab disapa Bang Jol Paloh, hadir didampingi pengurus lembaga, Yusuf A dan Anwar Muhammad. Semangat gotong royong kian kental dengan hadirnya Direktur Pengembangan Usaha PT Pembangunan Lhokseumawe (PTPL), Muntazar, serta Direktur Keuangan PTPL, Junaidi. Kehadiran Perusahaan Perseroan Daerah (Perseroda) Kota Lhokseumawe ini menegaskan komitmen bersama untuk menyerap hasil keringat para petani dan nelayan lokal agar memiliki nilai jual tinggi di negeri jiran.
Kepada pihak Bea Cukai, ATC memaparkan peta jalan pengumpulan hasil komoditas langsung dari hulu tangan para petani dan nelayan untuk didistribusikan ke jaringan ritel Malaysia melalui kerja sama dengan buyer serta agen pelayaran yang telah disiapkan.
Bea Cukai Siap Lakukan Pendampingan
Kepala Kantor Bea Cukai Lhokseumawe, Bambang Sutarjo, yang menyambut langsung audiensi ini bersama jajaran pejabat struktural dan fungsional, menyatakan dukungannya secara penuh. Bagi Bambang, membantu produk lokal “naik kelas” ke pasar global adalah sebuah misi penting.
Namun, ia mengingatkan bahwa legalitas dan kepatuhan regulasi adalah jangkar utama agar roda perdagangan ini bisa berjalan awet dan aman. “Bea Cukai siap memberikan asistensi dan pendampingan kepada pelaku usaha agar kegiatan perdagangan internasional dapat berjalan lancar, tertib administrasi, dan sesuai aturan,” ujar Bambang, dikutip dari rilis Bea Cukai Aceh.
Kepatuhan ini dinilai krusial demi menciptakan iklim usaha yang sehat, berkelanjutan, dan memberikan kepastian hukum bagi para pelaku UMKM daerah.
Shipment Perdana Minggu Kedua Juni
Kabar baik bagi masyarakat Aceh bukan lagi sekadar rencana di atas kertas. Saat dikonfirmasi, Ketua ATC Bang Jol Paloh membawa angin segar mengenai kepastian jadwal pengiriman barang.
“Rencana shipment (pengiriman) perdana minggu kedua Juni [2026],” ungkap Jol Paloh penuh optimisme melalui pesan singkat kepada Line1News, Rabu sore (13/5/2026).
Menghidupkan Kembali Kejayaan Maritim
Langkah taktis ATC ini menjadi kelanjutan dari penandatanganan kerja sama operasional (KSO) antara ATC dengan perusahaan Malaysia, GT Empire Global Sdn. Bhd. (GTE) di Chow Kit, Kuala Lumpur, pada 10 April 2026 lalu.
Gerakan mandiri sektor swasta ini sekaligus menjadi jawaban riil atas visi besar Gubernur Aceh, Muzakir Manaf (Mualem). Dalam berbagai kesempatan, Mualem kerap menegaskan pentingnya menghidupkan kembali jalur dagang historis Aceh-Malaysia.
“Kalau dulu kita berkiblat ke Medan dan Jakarta, kini kita berkiblat ke Kuala Lumpur dan Penang,” ucap Mualem pada satu kesempatan di Aceh Utara.
Melalui integrasi rantai pasok dari desa-desa di Aceh hingga ke pasar Malaysia, komoditas unggulan Serambi Mekah diharapkan tidak hanya memulihkan ekonomi regional pascabanjir, tetapi juga mengembalikan marwah Aceh sebagai pusat perdagangan maritim yang jaya di masa lalu.
ATC Menyediakan produk-produk berkualitas dan beragam untuk kebutuhan pasar global dengan harga yang kompetitif. Hubungi kami:

No comments:
Post a Comment